­-Napak Tilas Sajak Berdebu­-

Kugoreskan pena
Merangkai kata demi kata
Gambaran perjalanan hidupku
Sajakku sajak berdebu_

Mengkiaskan hari lalu, mungkin menorehkan satu kenangan kelam yang tak terlupakan buatku. Waktu itu, bukan saat mudah menuliskan satu karya begitu saja. Aku masih malu menuliskan cerita-cerita karyaku yang mungkin tak ada guna bagi orang lain. Namun saat adanya blog ini, seperti menemukan kebahagiaan tersendiri, semuanya mulai berbeda. Sedikit demi sedikit aku pun berani menulis lagi, serpihan-serpihan karya kecil layaknya ini. »
Sebuah cita-cita panjang dulunya, hingga kukristalkan; aku ingin jadi penulis. tidak muluk-muluk, Menjadi penulis bodoh pun tak apa, yang jelas penulis saja. Atau lebih untungnya, bila menjadi penulis legendaris, tapi lagi-lagi bila itu tidak muluk-muluk. sampai sekarang, aku belum begitu percaya diri, kukatakan itu karena, yang aku tahu; pada akhirnya hanya tuhan yang dapat memastikan, kemana akan mengalirnya buah-buah perasan pemikiran dan perasaan ini. “semoga ini bermanfaat sajalah, tanpa dikenal sebagai karyaku juga tak apa” kenang batinku.»
Hanya sebagian saja dari hidupku yang terwakili goresan pena. Olehnya, tentang suasana hati ini, aku beranjak menepi di sudut fatamorgana dunia. Belum berhenti, dan selalu melawan putaran roda kehidupan; spesifikasiku, sudah melekat “kata aneh” dalam diriku. Maklum bagiku, tentu tetap aneh bagi yang lain. perbedaan yang kudapat itu secara alami tak bersyarat apa pun. bagiku, semoga tetap sama seperti sekarang, karena aku telah menemukan nikmatinya hari-hariku. meski sekarang hari telah berganti lagi. Apa mau dikata, hari selasa itulah jadinya. Pengalaman hari kemarin masih terngiang di kepalaku; baru kemarin aku sampai di kota surabaya.»
Kota surabaya adalah ibukota provinsi jawa timur, indonesia. Merupakan kota terbesar kedua di indonesia setelah DKI jakarta, terkenal dengan sebutan kota pahlawan karena historis perjuangan masyarakatnya yang begitu luar biasa saat mengusir bangsa penjajah. Ini bukan kali pertama aku ke surabaya. Meski begitu, aku tak menyangkal, tentang surabaya, tak ada satu pun hal yang membosankan buatku, sampai sekarang. ini kisahku bersama bu sinta, salah satu pedagang warung kopi di persimpangan jalan.»
Lentiknya jari bu sinta rasanya seperti melihat dunia lain dari secangkir kopi yang diaduknya. Hampir setiap malam dengan wajah ceria, bu sinta bak kontestan Indonesia idol edisi persimpangan jalan. Rambutnya hitam pekat mirip pekatnya kopi pahit tanpa gula.Mata yang bersinar, seakan mutiara langka yang tidak ada lagi di dunia.Bu sinta adalah satu dari segala penjual minuman kopi bermarkas di warkop (warung kopi) persimpangan jalan di Surabaya. Lokasinya sudah ada dihatiku sejak pertama aku ke surabaya. banyak sekali keakraban akan kehidupanku dengan adonan mahakarya bu sinta. Mula-mulanya, karena di desa senduro kabupaten lumajang tempat lahirku aku tak begitu tertarik dengan yang namanya minuman kopi. Kehidupan akan warung kopi yang selalu ramai di Surabaya membuat aku seperti melihat iklan pentingnya secangkir minuman kopi untuk pemenuhan gengsi agar satu level dengan semua lapasan masyarakat di Surabaya. Aku pun mulai terpikat oleh cita rasa minuman kopi. Meski tentunya hanya minuman kopi buatan bu sinta. »
Warung kopi bu sinta adalah warung kopi seperti kebanyakan. Dilengkapi dengan televisi di pojok atas, aneka kerupuk yang diikat dengan tali rumput japan dan ditempatkan di paku yang menancap di dinding, gorengan tahu tela heci, minuman sprite fanta berjejer menggoda diteras tempat hidangan, dan tak lupa Koran jawa pos hasil langganan bu sinta. Semua itu pemandangan panggung untuk bu sinta sebagai bintang tamu special dengan lentiknya adukan minuman kopi yang dipesan oleh para pelanggan. »
Di Surabaya aku selalu menemukan episode baru yang lebih menyenangkan tiap harinya.Kehidupan yang terkadang keras, seperti saat aku melihat perkelahian antara salah satu polisi yang dikeroyok sekumpulan warga masyarakat.Atau saat Kota yang yang terluas nomer dua di Indonesia ini terasa begitu sempit.Misal saat aku pas lagi asyik bercanda, berbincang sambil main catur di warkop bu sinta.Suasana malam, pagi, hingga malam lagi.Sebenarnya bukan urusan waktu untuk tidak ada kehidupan di persimpangan jalan. Semua itu menjadikan pola pikirku akan Surabaya yang semakin menjadi berwarna. »
Begitulah Surabaya buatku.Sebagai seorang urban, rasanya Surabaya seperti surga dunia.Hal sekecil minuman kopi, memang terdengar remeh biasanya, namun bagiku tidak.Malah dari situ aku bisa mengenal masyarakat Surabaya.Melewati sebanyak-banyaknya warung kopi dipersimpangan jalan, romansa di Surabaya sungguh menjadi lebih berkesan.Terimakasih bu sinta, terimakasih buat semua penjual kopi diseluruh wilayah Surabaya.Hidup untuk sebuah keakraban di Surabaya. »

2 komentar:

  1. ceritanya menarik....
    salam kenal sesama warga Lumajang


    www.kangmartho.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke kang marho ...
      salam kenal kembali

      lumajang kota indah yang belum banyak orang yang tahu keindahannya...

      untuk kata "ceritanya menarik"
      terimakasih wes,;)

      Hapus