−Tragedi Cinta Oni Sapu Lidi−

aku adalah teman oni. Suatu kehormatan besar, menulis tentang oni, sahabat terbaikku. Satu pesan darinya, sampaikanlah ini tentang cinta:
“sampai kapan pun bahwa cinta itu bukan pilihan. Haruslah mencintai semuanya dari indah dan buruknya. Dalam cinta, siapa saja bisa, namun hati suci tidak mungkin mau di adu. Aku rela kamu dengan yang lain, karena aku terlalu mencintaimu.
untuk kamu; lailatin”_

lailatin membuang pesan surat yang tadi pagi, oni berikan kepadanya. Rasanya itu akhir dari perjuangan oni. Yang terindah masanya telah pergi, karena mendadak, lailatin telah dijodohkan dengan lelaki yang lebih mapan, seorang laki-laki dari pegawai PDAM, sedangkan oni hanya seorang mahasiswa yang belum jelas kemana rimbanya setelah dia lulus kuliah nanti. Meniti hari-hari yang tersisa, oni seakan menutup matanya untuk kembali tersenyum tentang cinta.
baru hari kemarin, aku bertemu oni lagi. Suasana yang tidak berubah, telah kulihat dengan jelas. Raut muka selalu bersalah, kesepian, keterpurukan, kehancuran, atau semuanya yang pernah layu di dunia ini, itulah oni. Aku kasihan padanya, betapa berbeda antara oni yang dahulu dengan sekarang. Mungkin oni terlalu dalam mencintai lailatin, alhasil jika terjatuh, terjadilah efek sakit hati yang tak terkira.
Sepanjang ingatanku, memang belum begitu meyakinkan peristiwa ini cepat terjadi. Mengingat dahulu
Barangkali sebagai teman aku harus mengingat peristiwa ini sebagai warna tentang cinta. Namun oni adalah temanku, aku ingin melihat keceriaannya seperti dulu lagi. Menghiburnya tentu bukan pilihan mulia, haruslah alami dalam menyikapi suatu pemulihan. pikirku sebaiknya oni kuajak ketempat dunia ketiga, yaitu camp-ing di ranu kumbolo tengger semeru. Mendengarkan penjelasanku, oni akhirnya mau dan manut. ia siap ikut bersama teman-temanku yang lain untuk camp-ing di tempat itu.
Ranu kumbolo tengger semeru adalah tempat eksotis berupa danau yang terletak diketinggian ± 2400 Meter diatas permukaan laut, yang berada di wilayah kabupaten lumajang-jawa timur. Untuk mencapainya haruslah dengan jalan kaki, mengingat medan perjalanan yang berupa bukit-bukit dan hutan rimba. Catatanku, ranu kumbolo sangat indah terlihatnya; air danaunya yang masih bersih, suhu sekitar yang dingin, hutan yang masih terjaga, medan perjalanan yang menantang, semua itu membuat aku tidak pernah melupakan keindahannya. Itu sebabnya aku membawa oni ke tempat ini, karena disinilah harapanku oni dapat menemukan kedamaian yang ia inginkan.
selama perjalanan … … …_
akhirnya kami sampai di ranu kumbolo tengger semeru. nampak oni kelelahan, wajahnya pucat nan kusam dengan keringat yang mengalir deras hanya dibagian kening kepalanya. Aku juga kelelahan, namun lebih segar dari temanku yang lainnya. Seketika, tenda segera dibuat, sedang teman-temanku yang lain bertugas kayu bakar untuk dibuat api unggun, oni kebagian memasak satu ekor ayam sebagai hidangan pertama pelepas lelah nanti. aku bertugas membantu oni. Menu makan waktu itu terumuskan ayam bakar. Aku tahu oni jagonya dalam meracik bumbunya, sedang aku kebagian menyiapkan semua perlengkapan pembakaran ayam itu.
malamnya, suhu dingin disekitar semakin menggigit pori-pori kulit. api  unggun segera dibuat –sampai kobaran apinya terlihat-. Ketika telah siap, hidangan ayam bakar dikeluarkan. Semua duduk-duduk disekitar api unggun. untuk meramaikan suasana, aku buat sebuah permainan; namanya “curhat kumbolo”. peraturan permainannya simple, yaitu; semua dari temen-temen haruslah menceritakan hal paling bodoh yang pernah dialaminya, dan nanti yang dianggap paling bodoh adalah pemenangnya, dengan hadiah spesial dua paha ayam bakar. akhirnya semuanya sepakat untuk mengikuti permainan “curhat kumbolo” yang kubuat. setelah diacak, ternyata giliran pertama adalah aku sendiri. Kuceritakan tentang pengalaman bodohku saat aku menanyakan arah jalan kepada seseorang dan ternyata orang itu orang gila. ”pantesan pas aku tanya dia cuma cengengesan” cuplikan akhir ceritaku. Semuanya tertawa mendengar ceritaku. Tiba giliran kedua, setelah diacak, ternyata tibalah giliran oni. Aku serius menyimak apa yang akan oni ceritakan kali ini. Diluar dugaanku; oni bercerita tentang kisahnya dengan lailatin. Menurutnya, awal dia suka kepada lailatin, itu gara-gara dia tidak sengaja melihat lailatin ketika memakai  kerudung warna biru, “ cantik betul dia waktu itu” tangkasnya. Semuanya terdiam, salah satu dari kami bertanya, “on, lalu lucunya dimana??”. Oni pun hanya termanggu begitu saja, kemudian ia melanjutkan ceritanya, “ aku kini telah kenal lailatin selama 4 tahun. Dia cewek yang aku kagumi. Anehnya, selama kenal dia, ternyata lailatin suka banget ma benda yang namanya SAPU LIDI. Apa istimewanya coba’??  CUMAN SAPU LIDI !!. apa juga menariknya??. Parahnya aku dulu, pas dia ulang tahun, aku terpaksa mengkado hadiah hiasan dinding yang terbuat dari sapu lidi,huh...  SIAL !!.
itulah pengakuan oni yang berhasil menyihir kami. Semua pasang mata terbelahak, dan kami tertawa bersama-sama. Terlihat sudah apa puncak penyesalan jalinan kisah yang dulu mereka jalani; antara lailatin dan oni. Melihatnya, oni nampaknya lega, aku pun juga sama. Sebagai temannya, suatu kebanggaan tersendiri dapat membuat oni larut dalam suasana eksentrik di ranu kumbolo.
tibalah giliran tiga –dan selanjutnya- semuanya  memang menikmati saat-saat asyik itu. Cerita-cerita dari teman-teman layaknya menjadi bumbu-bumbu pelangkap penghangat ditengah dinginnya suasana ranu kumbolo. Sampai selesai, akhirnya aku dan teman-teman haruslah memilih siapa pemenang permainan ini. Aku mendukung oni sebagai pemenangnya,  yang lain pun setuju pada keputusanku. Kemeriahan malam itu kami tutup dengan makan ayam bakar bersama-sama, dan oni mendapatkan spesial dua paha sebagai hadiahnya tadi. Puncak kebahagianku adalah setelah kami pulang di hari esoknya, ternyata oni telah banyak berubah; sekarang dia lebih rilex nan santai, raut wajahnya sudah ringan kelihatannya. Rupa-rupanya, di ranu kumbolo, oni telah menemukan serpihan pendamai, menenangkan kehidupannya yang lebih baik lagi dihari selanjutnya.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar