Di Seberang Jalan Suku Tengger Lumajang

Penjelmaan Kotaku Di Alam Surga
Episode Di Seberang Jalan Suku Tengger Lumajang

Melihat seorang anak kecil gembira menatap ibunya yang lelah setelah pulang dari ladang sawah, itulah pengalaman saya dan tim pertama kali datang ke desa argosari kecamatan senduro kabupaten lumajang. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa di desa ini terdapat satu bukit/puncak yang berpanorama indahnya gunung bromo dari kejauhan, anak-anak muda biasanya menamakan itu sebagai puncak B-29 atau umum dengan sebutan puncak gedog. Namun sebenarnya, maksud saya dan tim mengunjungi desa itu bukanlah untuk menikmati puncak gedog, sebaliknya saya sangat ingin mengetahui bagaimana kehangatan sosial budaya di desa ini, apalagi kalo bukan karena di desa inilah banyak warga masyarakat asli keturunan suku tengger, suku yang terkenal tersebar mendiami empat kabupaten yaitu kab.Lumajang, kab. Probolinggo, kab. Pasuruan, dan kab. Malang.
Di Seberang Jalan Suku Tengger Lumajang
Begitu sampai di desa itu, suasananya sepi meski keindahan alamnya Nampak bergemuruh menggoda mata saya. Ketika pagi hari, masyarakat sudah siap bekerja di ladang sawahnya. Mungkin suhu yang dingin disini adalah kehangatan tersendiri bagi masyarakat ketika harus melestarikan budaya leluhur mereka, yaitu mengelola sebidang tanah yang menjadi aset penghidupan keluarga. Di desa ini kantor desanya pun sepi, entahlah apa terjadi di hari itu saja, namun menurut warga sekitar juga memang setiap hari tidak ada aparatur desa yang ke kantor desa kecuali kantor desa hanya ramai apabila remaja-remaja berkumpul untuk melaksanakan hajatan desa. Hmm… adalagi masalahnya, selanjutnya, disini masalah pendidikan juga belum ada yang memperhatikan. setelah lulus SD rata-rata dari mereka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sekedar pengadaan program pendidikan nonformal saja tidak ada.
Saya pun tertegun, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah memang masyarakat tidak berminat terhadap pendidikan? Adakah solusi jika memang ini dianggap suatu masalah?. Bagi saya: Iya ini masalah dan harus ada solusi !. kita semua tahu, masa remaja adalah masa-masa terbaik untuk mengenyam bangku pendidikan dan memperoleh berbagai pengalaman hidup. Oleh karena itu tidak dapat disangkal lagi, mereka sangat membutuhkan ilmu pengetahuan, keahlian maupun ketrampilan di samping pengetahuan umum yang dapat menjadi bekal hidup dan modal mereka nantinya baik dalam menyesuaikan diri dengan hidup yang lebih baik dan kehidupan maupun dalam memperbaiki taraf kehidupannya. Berkenaan dengan masalah ini, pendidikan sebagai basis ilmu pengetahuan, harus mampu mengadakan perencanaan pendidikan yang baik dan mampu merealisasi tujuan-tujuan yang telah dicanangkan yang di dalamnya menggunakan berbagai system dan administrasi yang rapi. Perencanaan (Planning-Organizing-Actuating-Controling) ini penting tentunya dengan analisis SWOT, sehingga dapat merealisasikan peningkatan produktifitas manusia yang tentunya bermanfaat bagi kemajuan sosial dan budaya masyarakatnya.
Melihat hal ini, menurut saya solusi yang tepat adalah diadakannya program pendidikan nonformal (TBM/PKBM/Kursus) di desa argosari. Dinas pendidikan terkait harus berani membuat satu terobosan dengan memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik kabupaten lumajang untuk berbagi pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Sosialisasi terkait keadaan desa argosari yang sedemikian ini patut untuk diinformasikan kepada seluruh akademisi kabupaten lumajang. Pemerintah kab. Lumajang harus memberikan apresiasi kepada relawan, serta memfasilitasi sarana dan prasarana yang nantinya dapat membantu kesuksesan program ini. Semoga bermanfaat

2 komentar:

  1. Orasi kok ning kenee..
    kliru pek..
    kunu lho...
    ning ndukore tugu adipura...

    BalasHapus
    Balasan
    1. tugu adipura lumajang ta cak ?
      peno nguruk i mayak cak, hahahaha

      Hapus