−Kidung Pusaka Raja Jawa−

Pada suatu hari istri raja meninggal, di saat kobar-kobar politik melenyapkan lumbung keistimewaan negeri tanah jawa. Kondisinya sudah tak layak huni, Isyarat gemah ripah loh jinawi menjadi hilang. bumi sepertinya kering, semua penghuninya pun menjadi keceng krempeng-krempeng. Tak khayal, yang berbudi alim menjadi rajin berpuasa, yang bejat tega mbegal dimana-mana. Tapi raja tetap sabar, tekun mengumpulkan buah surga agar nanti dapat dimakan rakyatnya.
-          raja berjalan mondar-mandir dikebun negara. Untuk mencari buah surga, beliau banyak menemukannya. Ia sedikit kaget ketika melihat tukang kebunnya hampir mati karena kelaparan dan lelah selama hidupnya tiada henti menyirami pohon buah surga      -
Tukang Kebun : raja… tolong.. tolong.. (nada suara merintih)
Raja                 : kisanak, apa yang bisa saya bantu .. (nada tergesa bin bingung bin linglung)
Tukang Kebun : terima ini, pusaka keramat dari ibuku !. sebelum akhir hayat ibuku, aku dulu pernah berjanji padanya akan dapat memberikan ini padamu..
Raja                 : kisanakkkkkkkkk… (menangis tersedu-sedu)
akhirnya tukang kebun meninggal di kebun itu. Siapa sangka aku juga awalnya tidak tahu. Namun setelah selanjutnya, ternyata tukang kebun itu sebelumnya menderita penyakit sama seperti istri raja dulu, yaitu paru-paru bangkai. situasi itu sudah biasa di tengah carut marut tanah jawa dewasa itu.
sekejap rahasia pusaka itu mudah diketahui –dari hasil penelitian laboratorium-: untuk pengobatan, untuk senjata, dan untuk menangkal kutukan. Olehnya, bermaksud agar penderitaan rakyatnya di negeri jawa segera berakhir, raja bersiasat menggunakan pusaka itu. “pusaka ini harus kuhancurkan sampai jadi abu, lalu akan kutaburkan ke tengah pusaran lautan. Biarkan itu menjadi obat untuk rakyat, ikan, serta semua yang ada di alam jawa ini” pikirnya. Ditaburkanlah serpihan abu –setelah dihancurkan- ke pusaran lautan. Seketika pidato raja mewajibkan semua rakyat meminumnya. Semua patuh mengikutinya, akhirnya kasiat pusaka itu terbukti. Tanah jawa kembali gemah ripah loh jinawi,  Rakyatnya pun kembali sejahtera. Hanya satu yang tidak kembali, yaitu raja tetap kehilangan istrinya. Meskipun begitu, tentang asmara, raja bukan tanpa berita, keberhasilan raja membawanya mencapai puncak kewibawaan. Kehormatannya sudah tiada tara lagi. bahkan kesohorannya sampai ke negeri sebrang jawa, semua raja-raja lainnya pun tahu. Sampai-sampai tidak jarang banyak tawaran agar raja mencari istri baru, tentunya dari putri-putri mereka. Namun raja tetap ingin menduda saja, ia belum mampu melupakan masa-masa bittersweet bersama istrinya dulu.
di dekade selanjutnya, keadaan buruk kembali terjadi. Namun ini lain cerita, seakan gara-gara raja “men-jomblo”, ternyata rakyat negeri tanah jawa dipenuhi para kaum duda dan kaum janda. Generasi mudanya pun kebanyakan ikut-ikutan men-jomblo, bahkan ada yang lebih parah; mereka menjadi kaum homo dan kaum lesbi. Menyikapi itu semua, raja segera mengadakan rapat bersama segenap abdi keraton negeri tanah jawa.
Raja                                         : saudara-saudaraku sekalian, saya sangat prihatin melihat apa yang telah terjadi belakangan ini. Tentu sebagai kepala Negara, ini salah saya. Lalu, sudikah saudara membantu saya menyelesaikan masalah ini??.
Abdi dalem                              : tentu raja, sudah menjadi tugas hamba sebagai bawahan panjenengan. Menurut saya, raja harus segera menikah agar raja dapat menjadi contoh yang baik bagi sekalian rakyat tanah jawa.
Abdi dalem lainnya                 :  interupsi raja !!, menurut saya, pendapat dari abdi dalem bukan solusi yang sepenuhnya benar !. harusnya raja meniru zaman orde baru; menerapkan penembakan misterius (petrus), dengan catatan, siapa pun halal di tembak di tempat bila kedapatan dia melakukan aksi homo dan lesbinya. Begitu pula dengan kaum janda, dan kaum duda -kecuali raja-.
Abdi dalem lainnya dari lainnya : Interupsi juga !!, saya kurang sependapat dengan abdi dalem lainnya. Langkah petrus itu cermin tidak manusiawi, karena nanti terlalu banyak yang dikorbankan. Kita bersama sudah tahu bahwa hampir semua rakyat tanah jawa ini telah homo dan lesbi, lalu apa kita akan memimpin tapi tidak punya rakyat !!. lebih baik raja harus legowo untuk turun tahta, setelah itu raja harus siap dibunuh !!, karena rajalah penyebab situasi seperti ini .. ..
Raja                                         : AAAPPPPPPAAAAA .. ?????!!!!!!

Seketika raja dan semua abdi dalem terdiam. Opini-opini abdi dalem nampaknya menjadi “kejutan revolusioner” bagi raja. Sampai-sampai raja pun menangis tersedu-sedu. Menelah situasi buruk itu apa sebabnya, raja sudah tak mampu lagi. Menyadari dan memahami pendapat abdi dalem, tentang kebenarannya, bagi raja ini adil, logikanya sudah menembus ulu hati. Raja akhirnya tidak menolak. Ia pun siap turun tahta, serta dihukum mati.
-SENSOR-
Satu hari kemudian, negeri tanah jawa keilangan pemimpinnya.raja telah tewas. Semua rakyat merasa ikut berdosa atas kematiannya. Begitulah cara seorang pemimpin yang melahirkan tanah jawa. Ketulusan hatinya seperti matahari, keiklasan pengorbanannya tidak terbatas nan abadi, mati pun ia rela, karena yang ingin beliau perjuangkan bukan kebesaran namanya.◊
1000 tahun setelah tewasnya raja, dan itu sekarang !!.....
Menurut kamu seperti apa raja tanah jawa sekarang??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar