Kami tahu sesuatu tidak akan banyak terjadi
Sedih atau ‘’mungkin’’ ini akan berbeda
Kami masih tidak tahu
Karena kata ‘’pasti’’ hanya Tuhan yang memilikinya_
“wiuwittt.. wiuwuitt...srrr” sesuatu telah terjadi di pelataran kontrakan. Belakangan itu adalah bunyi siluman sialan penghuni kontrakan bernama muklis. Nada suaranya tak merdu, rusuh rada angker setengah misteri. Anehnya hanya satu dari kami yang selalu dapat mendengar suara siluman sialan itu; namanya kyai nidlom amrulloh. Eks lulusan pondok pesantren terkemuka, dia ahli kitab yang belum berjudul –red: ilegal-. wajahnya oriental penggembira, dengan mimik badan seperti telur puyuh dalam tusuk sate. Aku yakin pemandangan akan berbeda saat kamu tahu dia yang sebenarnya, Karena dia cukup abstrak, sulit dikiaskan dengan kata-kata. Kisah lain –sebagian masih kucari arsip nasionalnya-, dalam berguru, nidlom punya satu teman akrab asal ngomong tentang hal-hal keramat; bernama patih habib gani jauhari. Pecinta acara uka-uka edisi alas kelampis, daerah ponorogo. Katanya angker tapi aku belum percaya. Penyusuran demi penyusuran telah menyibak tabir; patih habib kerap kali memunculkan jurus ajian jaran goyang. Namun tak lama, penangkalnya mudah ketemu, tentu dialah adipati aris setiawan. Laki-laki adem ayem bintang iklan adem sari versi televisi kotak hitam kontrakan. Bila bagi kami negeri kayangan itu adalah kontrakan, kurasa cukup. Salah tidaknya itu semua tak perlu. Karena pekerjaanku sebagai dalang tentor super senoir bergelar ‘’king’’ selamanya, selama di kontrakan, telah mempatenkan karya ini lebih dari cerita rakyat sampai kiamat. Jauh-jauh hari dalam kerasnya persaingan industri cerita lakon ketoprak ke pura-puraan pemimpin negara kesatuan republik indonesia ini.-
Malam jum’at kliwon, awal mula listrik padam di kontrakan. Kayangan menjadi gelap pekat. Werkudara sibuk memasak dan mengemong adik-adiknya; nakula & sadewo, Gatotkaca masih bersemedi, petruk sibuk bermain fulsal, gareng asyik mancing di danau unesa, tapi muklis tetap setia menjaga kayangan. Biasanya muklis menjadi jin bangsat, kerap kisruh, aksi ngawur, apalagi saat-saat gelap mendera. Aneh yang lumayan, muklis berubah. aku senang sampai akhirnya bersalaman dengannya, ‘’WES DAMAI BOZ’’ sontakku padanya. Kayangan menjadi aman meski listrik padam dalam seabad lamanya lantaran gara-gara dahlan iskan keluar dari dirut PLN. Tapi tak apa, toh kayangan masih seperti sedia kala. ini berkat muklis, mahluk buruk yang mendadak menjadi baik.-
Hampir pagi di bulan purnama, suatu ketika ada yang baru saja terjadi diselanjutnya. Golongan hitam berjuluk laskar sengkuni; edi tansil, habib rizik, nunun nurbaiti, gayus, ahmad dhani, nurdin halid, ustad soulmate, dan para keluarga century, menyerang kayangan. Mereka menginginkan kyai nidlom untuk di makan. Menurut agen muklis bekerjasama dengan FBI, para dedengkot-dedengkot itu selalu kelaparan setiap melihat kyai nidlom yang badannya seperti telur puyuh tusuk sate. Mereka iri hasut dan dengki; ‘’raja, betapa saya harus menelan ludah sebagai menu sehari-hari. Sedang ada telur puyuh tusuk sate berjalan di depan kami setiap hari ngiming-ngimingi’’ tangkas para bajingan itu padaku. ‘’SABAR KISANAK !!, RILEX !!, KASIH AKU WAKTU’’ aku sedikit kesal merasakannya. Namun sudah menjadi pakem, Bagaimanapun juga kodrat raja haruslah adil menyikapi sesuatu. Olehnya, aku butuh komisi dewan pertimbangan. Beruntung aku pake kartu AS SEMANGGI, jadi handponeku masih ada pulsa, Kutelphone semar:
Aku : hallo.. pak semar, aku butuh bantuan, segera ke kayangan !!
Semar : apa ??
Aku : AKU BUTUH BANTUAN, CEPAT KE KAYANGAN !!
Semar : waduh maaf raja, oke nggeh
Aku : nut.. nut.. %##%#
Sial aku dibodohi layanan iklan. Kartu AS SEMANGGI ngga’ bisa nelpon lama-lama. Buktinya Pulsaku cepat habis. Sialnya lagi, di depanku laskar sengkuni tak sabar lagi menunggu keputusanku. Semar masih belum datang. Muklis kuutus untuk cepat-cepat menjemput semar. Namun kata muklis, semar terlanjur naik agen travel pahala kencana. Apa boleh buat lagi. Huh .. –
Ketika semar telah sampai di depan kayangan, kyai nidlom telah ¾ habis di makan rame-rame oleh semua anggota laskar sengkuni. Muklis menangis tersedu-sedu menjadi merdu suaranya, aku tidak menangis lagi karena air mataku telah habis terurai sebelumnya, Gatotkaca yang baru pulang ke kayangan pun juga tak henti-hentinya merengek melihat kejadian itu, hanya nakula dan sadewa yang kebetulan lewat didepan kayangan yang antusias tega melihatnya; ternyata nakula dan sadewa menginginkan mata kyai nidlom untuk dijadikan mainan kelereng. –
Wejangan semar mencairkan suasana. Menurutnya semua anggota kayangan harus ikhlas atas kematian kyai nidlom, ikhlas untuknya, maka dia akan kembali nanti di kehidupan selanjutnya. Dengan terpaksa waktu itu juga kujadikan kebijakan nasional; untuk mengenangnya selama 7 hari kujadikan hari berkabung nasional. Itu karena aku raja adil nan bijaksana, bawalaksana, serta satyawacana. Semua petinggi kayangan harus takdim padaku, sepakat menutup-nutupi, atau menganggap kejadian itu murni kejadian alam. Seperti ketetapanku atas kasus pengeboran PT LAPINDO BRANTAS yang berakibat luapan lumpur lapindo di sidoarjo edisi lalu.-
Jasad Kyai nidlom telah habis. Kerakusan laskar sengkuni mengakhiri hidupnya. Pidato-pidato kenegaraan segera kususun hanya untuk jaga-jaga untuk mengkambinghitamkan laskar sengkuni yang memang jahat sebagai tersangka aksi kekejian itu. Aku cukup tenang karena jika memang kejadian itu harusnya tak terjadi, sebagai raja, aku sudah bisa memastikan siapa pelaku dibalik semua ini.-
Selama 2000 tahun selanjutnya .....
Ternyata rakyat kayangan tidak menggugatku untuk menyelesaikan perkara itu. Meski sudah tua aku masih begitu terhormat. Aku menjadi raja absolut. Atas kebaikanku patih habib gani jauhari dan adipati aris kunaikkan pangkatnya, serta laskar sengkuni telah kujadikan menteri. Aku yakin mereka akan jadi seperti muklis dari buruk menjadi baik pula. Itulah aku contoh raja yang baik yang patut rakyat kayangan sembah. Kami akhirnya hidup berdampingan dengan konsep negara; NASAKOBANG, Nasional Koncoan Dan Bangsatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar