Mungkin, auraku menjadi natural dan datar
Sebagian menganggap aku idiot
Sebagian masih ada juga yang memuji .. ..
Itulah kontradiksiku dalam mencari ilmu
Modalku hanya dua;
Aku jujur, aku percaya diri
Urusan hasil akhir biar nanti ... ....
Tuhan pasti tahu bahwa aku berharap banyak pada-Nya
Suatu keajaiban yang aku tunggu-tunggu ... ..
Yang menjadikanku,
Seperti apa yang Tuhan mau_
hari ini tidak banyak kata yang ingin kuungkapkan. tentang kenyataan yang tertidur, semoga ini belum terlambat. Inspirasinya aku belum tahu akan terasa dimana, entah apa pentingnya cerita ini tertulis, Ups maksudku inilah yang aku bilang kebodohan dan kepandaian itu sangat dekat. Ini simple, mirip saat peristiwa di hari yang sebenarnya terjadi. Mulanya, sudah lazim kalo aku datang terlambat di waktu kuliah, namun tradisi terlambat itu ternyata juga berlanjut saat ujian perkuliaanku.O
kebetulan dosen kelasku bernama bu syafik menjadi pengawas di ruang ujian. beliau wanita ahli matakuliah pemberdayaan perempuan, menurutku sudah tingkatan papan atas. Selalu berkerudung, wajahnya kalem namun pemikirannya lebih tajam dari kelihatannya. Satu komitmennya saat menjaga di ruang ujian, “saya akan terus berdiri, mondar mandir mengawasi kalian semua, sampai nanti jam ujian ini selesai” tegas kata bu syafik. Saat ujian, aku duduk di barisan paling belakang. Kulihat teman-teman samping kiri-kananku sibuk mengerjakan jawaban dari saol-soal yang dibagikan sebelumnya. Sementara aku, belum ada inspirasi yang akan ku tawarkan sebagai jawaban menyelesaikan soal-soal itu. Aku sisipkan dari situ aku mencoba menjadi paparazi amatir untuk sejenak fokus menikmati suasana ruang ujian dengan mata dan hati. Ternyata kutemukan banyak fakta mencengangkan. dengan selalu bergelagat was-was, teman temanku melancarkan aksi contek mencontek, sampai membuka literatur secara ilegal. “katanya mahasiswa... kok kayak gini ya?? Hehehe...” pikirku menanggapi hal itu sebagai kelucuan yang belum terdefinisikan letak lucunya dimana. lelah mataku melihatnya, sejenak aku berhenti menjadi paparazi amatir, akhirnya aku memulai membaca soal untuk segera mengerjakannya. O
soal ujian itu ada sekitar 5 nomer, namun satu nomer biasanya terbagi menjadi a, b, dan c. serasa menanggapi masalah nyata dalam selembar kertas keramat, soal itu kubaca satu persatu hingga selesai. Bukannya sombong, sebenarnya aku menginginkan jumlah nomer soalnya lebih dari 5 nomer soal, pikirku 10 nomer soal pun akan lebih baik buatku, karena dari 5 nomer soal yang awalnya itu, tidak ada satu pun yang aku mengerti jawabannya apa, lha andai kalo ada tambahan 5 nomer soal lagi kan mungkin saja ada satu saja yang dapat aku kerjakan.J. Menanggapi itu, apalagi yang aku bisa lakukan. Aku hanya terdiam saja. “bodoh.. bodoh...” sahut-sahutan otakku menilai diriku.O
Delapan puluh lima menit kemudian ... .....
waktu kurang 15 menit lagi, lembar jawaban semua peserta ujian harus segera dikumpulkan. Setelah tadi kupikir-pikir, saat itu nomer soalku sudah selesai empat nomer soal. Tinggal satu soal lagi, maka semua soal berarti telah dapat kuselesaikan. Behind the scene, selesainya empat nomer yang selesai kukerjakan itu, sebenarnya aku juga hanya mengarang jawaban semampuku dengan nalar seadanya yang aku miliki. Benar tidaknya aku belum tahu. Lanjut cerita, tepat lima menit sebelum waktu ujian selesah, aku telah menyelesaikan semua soal. “alhamdulillah... kini selesai juga” gumamku. Akhirnya, aku mengumpulkan lembar jawabanku. Tinggal nanti bagaimana nanti hasil nilainya. “Tuhan...la haula walakuata illabillahilaliyiladim, hasbunallah wa nikmal wakil nikmal maula wa nikmal wakil” ini do’aku, semoga tuhan memberikan jalan yang terbaik buatku, amin. O
Tidak ada komentar:
Posting Komentar