-Advise Bisu Dari Shazia-

Saat aku telah memulai sesuatu
Sering aku terjatuh .. ..
Aku tahu, itu menyakitkan .. ..
Ku keraskan hatiku, selalu kuulangi lagi
Aku percaya suatu saat nanti;
Masa-masa mengecewakan ini akan segera terlewati_

Teman kecilku saat aku sedang menangis tersedu-sedu gara-gara ulah jail teman-teman di SD (sekolah dasar) dulu, itu dia bernama shazia. Kukenang dia wanita yang mungil. Ibunya penjual gorengan, sedang ayahnya pekerja serabutan. Aku belum tahu mengapa dia dulu tampak mungil, sekarang mungkin dia suadah beralih jadi cantik. Seingatku, dulu kalo marah; shazia tampak sama sekali tidak seram, malah aura cantiknya keluar penuh kesempurnaan (itu bagiku, bagi yang lain aku belum tahu). Ceritaku dengannya, mungkin tidak terlalu banyak. Dia selalu datang di episode-episode saat aku sedang menangis, itu saja. Sementara aku jarang sekali menangis. Andai aku sedang riang gembira, dia selalu enyah dari pandanganku. Sekilas saja ingin rasanya berbagi bahagia dengannya. Namun sampai kita sama-sama lulus SD, belum pernah aku bertemu dia lagi. Kabar dari teman-temanku yang lain, dia telah menjadi TKW di hongkong. Karena seumur denganku, di usianya yang ke 21 tahun ini, mungkin dia sudah menikah, mungkin lebih dari itu dia sudah mempunyai anak yang mungil seperti paras dia dulu. Hmm.. semoga dia selalu senang dimana pun dia berada, i miss u, shazia. »
Peristiwa Musim hujan ketika masa SD menjadi setting paling mengesankan bagiku dengan shazia. Dulu, ketika hujan tiba, saat istirahat pelajaran, teman-teman pada sibuk mencuci kaos kaki, terutama yang laki-laki. Iseng-isengku sambil menggoda teman yang lain menjadi bumbu pahit bagi korban cipratan air koas kaki busuk hasil cucian tanpa detergen. Disela itu, tidak sengaja, tidak sengaja shazia lewat di sampingku dan terkena air cipratan kaos kakiku tadi. Shazia awalnya hanya diam, namun setelahnya, dia jadi marah besar padaku. Dia tidak menyapa lagi, itulah cara dia yang paling ampuh untuk membuat aku tidak mengulangi lagi hal yang menjijikkan itu. Aku hanya termenung, meratapi kesalahan tadi. Pulang sekolah, ku ajak shazia untuk membeli cilot (makanan yang berasal dari tepung kanji, berbentuk bulat, diolah dengan daging sapi yang disisipkan di dalamnya), tapi dia tidak mau. Huh mengingatnya aku sungguh kesal pada diriku sendiri. »
Di hari yang berbeda, lambat laun perasaan kesal shazia padaku nampaknya mulai luntur. Dia terkadang mengajak aku berbicara sesuatu hal yang dia suka. Aku ya mau-mau saja, itu memang yang aku harapkan. Sampai suatu saat, shazia mengajakku untuk mampir di rumahnya. Lagi-lagi aku mau-mau saja, itu memang yang mendadak aku harapkan. Sesampainya di rumahnya, shazia mempersilahkan aku untuk duduk di ruang tamu. Kebetulan tidak ada satu orang pun dirumah itu selain aku dan shazia. Sepi, tapi ketika shazia duduk di sebelahku rasanya tiada sepi lagi. Kami berdua asyik bercanda. Celoteh guyonanku manjur membuat shazia tertawa, begitu juga sebaliknya. Di suasana yang larut itu, aku meminta ijin untuk pergi sebentar ke kamar mandi. Lelah tertawa, membuat aku kebelet pipis. Untuk sampai di kamar mandi ternyata harus melewati banyak ruang lain termasuk kamar tidur shazia. Cepat-cepat aku berlari menuju dari kamar mandi. Sekembalinya, Pintu kamar shazia waktu itu terbuka, terlihat satu poster ibu kita kartini dengan ada kalimat indah yang aku tulis di baris paling atas dari cerita ini. Itulah satu pesan bisu dari shazia yang tak terlupakan buatku.»
Aku telah kembali didekat shazia lagi. Tatapan mata shazia nampak letih. Karena sudah sore, aku meminta ijin untuk pulang ke rumahku. Shazia melihatku dengan senyuman khasnya, isyaratkan setuju namun ia bahagia hari itu denganku dan sebenarnya tak ingin cepat berlalu (wow... aku Ke-PD an). berpamitan, akhirnya aku segera pulang kerumahku.’’aku senang menjadi temanmu, shazia’’ usik batinku.»

Tidak ada komentar:

Posting Komentar