Mengenang seorang manusia
Dengan jejak-jejaknya di dunia
Tentang sahabat
Yang telah pergi nan tiada_
Doaku benar-benar mustajab. Momen mengesankan itu telah kembali lagi. Perjalananku dari surabaya menuju mojokerto terbayar sudah; aku dan rival telah terhibur oleh pertunjukan wayang kulit di desa sumengko, mojokerto. Memang sudah lama aku tidak menonton pertunjukan wayang kulit, dan hari itu waktu melepas rasa pengusai kangenku akan wayang kulit. Pesan-pesan yang didendangkan dalang pun tertangkap; ‘’hidup harus seperti wejangan semar, lebih suka memberi dari meminta, tulus dan jujur dalam berucap kata-kata’’.»
Selesainya pertunjukan wayang kulit itu sekitar pukul 3 pagi; maklum bagiku, itu karena biasanya memang jam segitu selesainya serangkaian pertunjukan wayang kulit. Menanggapinya, aku awalnya memutuskan pilihan untuk segera pulang kembali ke kost di surabaya, namun rival punya pilihan berbeda buatku. Temanku satu ini ternyata memiliki teman di daerah tersebut. Ia bernama; fernando irez. Aku tidak menyangka sebelumnya, akhirnya kami putuskan untuk berangkat menuju rumah irez yang tidak terlalu jauh dari tempat pertunjukan wayang kulit tadi. Sesampainya di rumah irez. Lewat telephone rival menghubungi irez. Kondisi semakin membaik, irez pun menjemput kami. Akhirnya kami menginap bersama di rumah irez. Mungkin ini tulisan diluar tema, namun jujur aku takjub dibuatnya. Yaitu ayah dan ibu irez; mereka sangat ramah, binggung rasanya membedakan antara beliau berdua dengan ayah dan ibu kami masing-masing. Lebih-lebih sambutan mereka begitu hangat, juga hidangan yang aku pikir itu kejutan kecil dalam lelahku setelah menonton pertunjukan wayang kulit tadi, tak terlupakan lagi buatku adalah tentang air hangat yang disiapkan agar aku dan rival saat kami mandi tidak terlalu kedinginan di pagi itu. Aneh bagiku, itu terlalu baik ! padahal baru pertama kali kami ke situ, namun keakraban di malam itu sangat kental. Ingat itu aku tersenyum, gara-garanya ada ungkapan pe-de ‘’malam itu serasa bertemu keluarga baru’’ cletukan rival kepadaku. Tidak kalah, ialah sosok irez buat rival. Baginya; sejak awal pertemanannya dengan irez memang terjalin sangat mengesankan dan ia suka membantu. ‘’ Irez tipikal penggembira win, mandiri, asyik dalam berteman, hal yang lucu tentang dia dulu; saat tidur irez tu ngga’ ada hentinya dengerin musik, ehh sampai sekarang ternyata tetep sama kayak dulu’’, cerita rival tentang irez buatku. Karena terlalu lelah, singkat cerita kami pun mengakhiri pagi itu dengan tertidur sepulas-pulasnya. zzZZ. »
Telah tiba saat kami terbangun dari tidur nyenyak itu. Kulihat jam menunjukkan pukul 09:00 wib. Terlalu siang sebenarnya, namun memang itu yang terjadi. Kami pun bergegas untuk menata tempat tidur, setelahnya bersih-bersih badan, dan seterusnya kami bersiap pamitan untuk pulang kembali ke surabaya. Prosesi pamitan berjalan lancar, begitu dalam rasa terima kasihku buat irez dan segenap keluarganya. Tiada balas budi yang dapat kami berikan balik, semoga nanti Allah SWT membalas dengan pahala yang setimpal.amin. »
2 tahun berikutnya .. ..
Aku kembali bersama rival menuju rumah irez. Namun kali ini bermaksud lain dari yang dulu; kabar terbaru yang saat itu mengejutkanku adalah irez telah tiada. Meninggal di rumah sakit setelah didiagnosis dokter menderita penyakit kelenjar getah bening. Dua tahun setelah pertemuan pertamaku dengan sahabatku irez menjadi sebuah peristiwa yang tak terlupakan buatku. Sadar akan kebaikannya dulu, mungkin hanya do’a yang bisa aku kirimkan buatnya sebagai balas jasa yang tak terhingga. Selamat jalan sahabatku, semoga Allah SWT selalu memaafkan kesalahanmu dan menerima segala kebaikan yang pernah kamu lakukan di dunia. »
Tidak ada komentar:
Posting Komentar