Tali temali menjadi sebuah kehidupan
Manusia berjalan bersenang senang
Rasanya penuh cinta di tempat itu
Serpihan serpihannya begitu menyentuh jiwa_
Warna hijau mewarnai deretan jalanan dengan patahan patahan ranting bermacam pohon yang runtuh begitu saja dibawahnya. Sepertinya bernyanyi indah juga sekitarnya domba-domba yang bebas bergembala. Kanan kirinya rumah dan gedung ber-cat orange menghiasi bola mata yang akan memandangnya. Lorong-lorong tak luput dari perhatianku, menyiratkan kemewahan di gelap suasananya. Pedagang bakso, sate, sibuk melayani pembeli disamping lorong itu. Mobil-mobil mewah tiada pernah menyapa dengan kesopanannya selain hanya bunyi klakson pemekik telinga. Agak jauh dari lorong, dua tempat ayunan nampak kosong tidak ada anak-anak yang mengisinya. Disisinya, sungai dan airnya bercumbu, dihibur oleh kupu-kupu yang terbang, serta patung buaya tersenyum tak menakutkan. Aku juga berperan disitu; meski hanya di sepanjang jembatannya mengayuh sepeda berboncengan dengan teman wanitaku bernama laksmi. Bersamanya menghabiskan waktu, meski hanya lagi sekedar mempererat jalinan romantis persahabatan.₪
Begitu cepat berada di jembatan itu. Hatiku tergenggam keajaiban sejuta makna bersama laksmi. Persahabatan yang menjadi status diantara kami menjadi bumbu-bumbu lebih dari birunya langit ubun-ubun perasaanku. Tiada rasa bosan memandangnya yang menjadi penumpang setia sepeda kayuhku. Semua masalah rasanya telah hilang, merasakan momen yang memberikan sentuhan kesejukan itu. Bagiku, momen itu tiada sanjungan yang lebih tepat dikiaskan dengan satu kata pun. dalam dimensi ruang gembira yang membuat aku dan laksmi saling menyatu. Padahal seminggu lagi laksmi akan menikah dengan tunangannya. kini, kupikir sedikit boleh bila ungkapanku mungkin sedikit lagi berlebih bahwa laksmi di hari itu sebentar saja lebih dari teman menjadi wanita istimewa yang bersamaku.₪
Di hari yang berbeda, laksmi kini telah menikah. Walau begitu, aku dan laksmi tetap seperti sedia kala. Rasa romantis persahabatan kami belum sirna. Bedanya, aku tidak pernah bersamanya kejembatan itu lagi. Kepercayaanku, nilai lebih dari hidup kami terkenang saat dulu berada di jembatan reyot itu. Dari sana, dalam kehidupan laksmi dan suaminya, pernah suatu saat laksmi mengajak suaminya untuk ke tempat itu mengayuh sepeda seperti yang kulakukan dulu; namun suaminya tak mau !!. curhatan laksmi terkadang menyayat batinku. ironisnya bila ini terjadi; Mengapa terkadang persahabatan terjadi lebih tulus daripada pernikahan??.tapi bagiku,hmm.. dunia cinta memang siapa yang tahu, andai semestinya manisnya cinta ini untukmu, laksmi. But You’re only my friend. Suatu saat kita akan bertemu lagi dijembatan reyot klasik itu, percayalah. J .₪
Tidak ada komentar:
Posting Komentar