-Satu Titik Pedagang Kerupuk-

Kerupuk memberi kehidupan .. ..
Kerupuk memberi kasih sayang .. ..
Kerupuk memberi harapan baru .. ..
Kerupuk memberi inspirasi .. ..

Melihatnya istimewa sebagai manusia; aku terkagum haru. Beliau pedagang kerupuk di pinggir jalan di daerah sidoarjo. Bila mungkin ini penting, buatku bukan sebuah profesi orang kecil saat kutahu kebesaran hatinya. Dari situlah kisah ini bermula. Satu titik dalam dunia yang lebih sempurna, tak ada yang lain, masih ku tak percaya ini gara-gara pedagang kerupuk itu.≈

Hari senin, entah mengapa perasaan damai setenang-tenangnya telah bersemayam disaat aku memulai bangun pagi. Walau aku tak tahu takdir apa yang akan terjadi padaku nanti, sudahlah, apapun memang harus kuterima apa adanya, begitu pikirku. Menurutku, menyudutkan filsafat dan firasat terkadang akan menjadi sama. Hanya yang harus kita tahu bahwa manusia tidaklah memiliki kata “pasti”, karena hanya tuhanlah yang memiliki “kepastiannya”. Atau juga tentang cita-cita dan cinta hari itu. Aku sadar hidupku belum punya cinta yang suci, karena aku bukanlah malaikat yang hidup suci di dunia. Tapi seperti hanya batasan kemampuanku, cinta yang aku punya terkadang masih semu, seperti selalu ada udang dibalik hati. Itulah aku manusia biasa, cita-citaku lah yang ingin menuju manusia sebaik-baiknya. Berbedanya, sebagai manusia biasa, meneteskan air mata tentu bukan hari-hariku lagi. Rasanya aku telah terasuki apa yang tidak aku tahu sebelumnya. Hanya satu kata waktu itu; “sempurna”. terasa sudah, pagi yang indah itu buatku.≈

Siang yang menggebu, udara disekitar setelah aku menyelesaikan aktivitas kuliah mendera seolah ingin menusuk-nusuk bola mataku yang lelah. Bukan masalah bila pada saatnya waktu itu aku ingin tertidur sepulas-pulasnya. Namun lain halnya setelah itu terjadi; keinginan baruku yang tiba-tiba muncul, ialah aku ingin pulang lagi ke rumahku (dari Surabaya ke kota lumajang). Pikiran baru membuat semua yang ada diotak terkuras, ter tune up, tertuju hanya agar aku memikirkan untuk secepatnya sampai di rumah sederhanaku. Kuputuskan untuk tidak terlalu lama menunggu keputusan lagi, selain; aku akan pulang ke rumah. Mengendarai motor honda sonicku, mengikhlaskan hati kecil ini sebagai sanubari yang tersisa. Tepat pukul 14:00, aku beranjak dari surabaya in the kost.≈

Ada peristiwa menarik ketika perjalananku menuju ke rumahku. Sesuatu terjadi sebagai kenangan takdir indah dalam ingatanku, sesuatu yang kebanyakan orang lain akan menyesalkan ketika peristiwa ini menerpa mereka. Peristiwa itu ialah; MOTORKU MOGOK di perjalanan, padahal waktu itu sudah pukul 17:00, di sore yang telah larut malam. Beruntung aku bertemu pedagang kerupuk yang aku ceritakan ini. Namanya pak sarwo, beliaulah wakil tuhan di episode itu sebagai penolongku. Aku masih ingat wajahnya yang penuh kerutan-kerutan kasar itu, berbadan tegap tapi tidak kekar, memiliki pandangan mata sayu, kebaikan beliau menunjukkan betapa beliau sekelas orang-orang elit yang seharusnya. Keramahan, kepercayaan, ketulusan, semua kebaikan beliau silih berganti terasa memberi rasa nyaman tersendiri. Sampai aku menelpon reval (teman kostku yang di surabaya) untuk menjemputku kembali ke kost. Tidak lama kemudian reval datang, dengan di Derek motornya, akhirnya aku pulang kembali ke kost di surabaya. Itulah kisahku, kini, tidak henti-hentinya, ingin kuteriakkan selantang-lantangnya, hidup pedagang kerupuk Indonesia. thanks you.≈

Tidak ada komentar:

Posting Komentar