Tangan kirinya tertusuk jarum infus
Sungguh pemandangan kasihan
Sementara disana, banyak yang lain terbahak-bahak
Seakan yang gembira yang akan hidup selamanya_
Bau rumah sakit yang khas menjadi pelengkap suasana mengharukan di hari itu. Baru sebentar saja aku sampai disana, rasanya tubuh ini sudah tersengat hawa magis rumah sakit itu. Kebetulan yang menyedihkan bagiku adalah oni, teman satu desaku yang menderita sakit kanker. Sebenarnya sudah sekitar 2 tahun lebih aku tidak bertemu dengannya, sekarang mungkin dia akan lupa bahwa aku masih menjadi temannya dulu ketika pertama bertemu di salah satu stadion sepakbola di surabaya. Anak yang gaul bin riang bin ekspresif bin perfectsionis bin sanguin, sang penikmat sepakbola papan atas. Komentar-komentarnya non lebay, analisis tajam, sepertinya posisi dia layak disandingkan dengan asisten pelatih sekelas rafael benitez, eks pelatih liverpool fc (dulu) ,inggris. Namun harus apalagi, kenyataannya dia sedang berbaring, lemas nan lemah tak berdaya. Keceriaannya mengkisahkan ioni yang mendalam ketika mengingatnya yang bertubuh kekar sebelumnya. “Hmmm... bersabarlah sahabat” gumamku melihatnya seketika.X
Ibunya nampak kusut banyak pikiran, bapaknya juga, serta sekalian semuanya yang ramai menjenguknya. Ternyata saat pertama aku datang ini, itulah hari pertama bagi oni setelah di diagnosis dokter keadaan dia sudah menunggu keajaiban dari tuhan untuk selamat. Menemaninya dalam suasana berbeda ini sama halnya ketika saat aku tahu dia teman yang luar biasa yang nampak sangat berbeda dengan karakteristik karakterku. “kenalkan boz, namaku oni” jabat tangannya pertama kali denganku dulu. “oke boz, kenalkan aku hawin” sahut jawabku. Dia langsung menjelaskan maksud dia berkenalan denganku,“dirimu kelihatan kayak seorang big bos, apa rahasianya?” tanya dia. “HA !!.. bukanlah, aku ini Cuma anak desa, big bos darimana??” kilahku. “serius bos hawin, gaya kamu benar-benar berbeda dengan yang lain, menarik, natural” celoteh dia menyakinkanku. “wah ngawur, bukanlah, lawong aku juga pake kaos oblong biasa ini” sambil kuperlihatkan bahwa koasku ternyata ada yang sobek di bagian ketiak. Sepintas saja dia melihat, dia tetap selalu bilang bahwa itu tidak berpengaruh terhadap pandangannya terhadapku. Sampai akhirnya dia memohon kepadaku agar aku mau memberikan nomer hapeku, kuberikan begitu saja kartu namaku padanya. Pertemuan itu berlanjut dikemudian hari saat dia menawarkan kepadaku agar aku menjadi manager band yang dirintisnya. Aku menerima tawaran itu dengan bayaran seiklasnya, karena komitmenku aku mau dibayar andai band nya benar-benar menjadi terkenal. Singkat cerita, banyak festival yang kita ikuti, namun ternyata belum juga menjadikan bandnya menjadi juara. “aku konsekwen, tidak di gaji pun tidak apa-apa” sahutku padanya.X
Itu sekelumit cerita pahit-pahit manis dulu tentang aku dan oni. Kini semua telah berbeda, Dia sedang menjalani masa-masa sulit yang aku tidak tahu bagaimana akhirnya. Isyaratku padanya; persahabatan belum berakhir bila hanya perbedaan ruang dan waktu. Semoga engkau lekas sembuh, oni. Mungkin Kata-kataku ini belum bisa kamu baca, bagiku itu tak penting, tetap percaya jangan merasa sendiri, ingatlah slogan kita “you’ll never walk alone”, kita orang-orang liverpool.X
Tidak ada komentar:
Posting Komentar