Secuil perkenalan yang telah lama bersemi
Melewati masa-masa dewasa awal khas Remaja Desa
Kadang-kadang aneh ..
Kadang-kadang Lucu .._
Sudah terbiasa barangkali bagi seorang bernama doni, aktivitasnya yang sibuk seharian berjaga di kebun kopi milik ayahnya. Seperti halnya kebun kopi pada umumnya yang ramai diserang hama musang, kebun milik ayah doni dijaga adalah untuk mengantisipasi hal itu. Sebagai keluarga yang serba pas-pasan, kisah pendidikan doni pun tidak begitu dipedulikan oleh sang ayah. Doni hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 5 sekolah dasar. ibunya yang sudah meninggal sejak doni berusia 2 tahun, tentu menambah polemik perasaan doni yang belum terdefinikan sampai detik ini. itulah perjalanan hidup doni yang menjadi membeda dengan anak yang lain. Hari lalu, tepat hari ulang tahun doni yang ke-16. menginjak usia puber ini, ternyata doni menyimpan sejuta kisah cinta yang istimewa di dalam kesibukannya menjaga kebun kopi milik ayahnya. Pertemuan dengan gadis senasib dengannya mengawali romantisme doni dalam menjalani kisah cintanya, tentunya juga berawal ketika kebun kopi milik ayahnya yang menjadi saksi perkenalan diantara mereka berdua.≈
Gadis itu bernama tika. Tidak begitu cantik, namun banyak yang menyebutnya dia gadis yang manis. Berbeda dengan toni, kesibukan tika seharian adalah sekolah dan membantu orang tuanya di rumahnya. Walau begitu, untungnya kebun kopi milik ayah doni berada bersebelahan dengan SMP tempat tika sekolah. Dari situlah setting perkelanan mereka berdua. Suatu ketika, tika dan teman-temannya di sekolahan sedang asyik-asyikan bermain bola kasti. Tiba-tiba tidak sengaja, lemparan salah satu teman tika menjulang keluar dari sekolah. Bola kasti itu merasuk ke kebun kopi milik ayah doni. Tika keluar untuk mencari bola kasti itu. doni yang awalnya tidak tahu, menduga bahwa ada musang yang mencoba memakan kopinya, ia pun berusaha mencari jawaban kegundahannya. Ternyata, setelahnya doni menemukan bahwa itu hanyalah bola kasti. Doni mengambil bola kasti itu. Agak jauh dari sebelahnya, terlihat tika tergopoh-gopoh menghampiri doni. “mas… maaf, itu bola kasti saya ya??” Tanya tika dengan nada suara patah-patah. “waduh… saya yang minta maaf, saya tidak tahu ini punya siapa.. saya baru saja menemukan bola kasti ini di situ..” jawab doni menunjuk tempat dia menemukan bola kasti itu. “mungkin ini punya kamu ya … “ lanjut doni dengan memberikan bola kasti itu kepada tika. “hmm.. iya mas, makasih ya..” suara tika mendawai ditelinga doni. Tika pun mengambil bola kasti yang diberikan doni. Dengan malu-malu, insting puberitas doni pun muncul, “mbak.. mau ngga’ berkenalan dengan saya??” Tanya doni seketika. Belum sempat tika menjawab. Doni pun melanjutkan aksinya. “kenalkan mbak.. nama saya doni.. mbak siapa namanya??” lanjut doni. Tika sebentar saja tersenyum menanggapi tingkah lugu doni di depannya. “iya mas.. saya tika..” tika pun melambaikan tangannya kepada doni yang langsung menyambut tangan tika dengan sangat antusias. “terimakasih ya tika.. kamu mau berkenalan dengan laki-laki penjaga kebun kopi sepertiku..” senyum doni mengiringi grogi gerak tubuhnya. Lantas tika pamit kepada doni untuknya kembali ke sekolahan. Itulah awal pertemuan tika dan doni di kebun kopi milik ayahnya.≈
Rasanya tidak terasa sudah sebulan lamanya selang pertemuan doni dan tika terjadi. Bagi doni, tika adalah bidadari yang diturunkan Tuhan di kebun kopi milik ayahnya. Itu pertama kali ada wanita yang tiba-tiba hadir di kebun kopi milik ayahnya. Biasanya, soal perempuan, doni hanya melihat musang perempuan saja (doni sampai hafal dengan karakteristik pembeda antara musang laki dan perempuan). Mungkin entah sama (atau tidak) bagi tika, sepenuhnya doni belum tahu hal itu. Sejak saat indah itu, doni belum bertemu lagi dengan tika. Belum adalagi seperti bola kasti (atau sebab lain) yang mengantarkan wanita secantik tika untuk dipertemukan lagi dengan doni di kebun kopi milik ayahnya. Doni pun terus berharap suatu saat ada masa-masa indahnya lagi, agar dia sedikit terhibur selain karena bertemu hewan musang-musang perempuan di kebun kopi milik ayahnya itu. “hmm semoga suatu saat nanti....” pinta doni, seadanya.≈
Tidak ada komentar:
Posting Komentar