Lambat laun putaran itu pasti berubah, Untaian kata-kata yang pahit itu juga akan berubah, dunia memang bukan panggung surga, tiada yang tahu kapan kebahagiaan tergenggam dan terlepas, satu persatu kenyataan telah kuarungi; ternyata kebenaran tidak selalu tampak seindah-indahnya, entah kamu percaya atau tidak??. Aku tidak pura-pura, manusia yang berkata manis, tentu tidak semua sama makna hatinya, suka dan tidak suka itu ada dalam satu hati, ketika sekilas kamu melihat senyum dunia, maka dengan mudahnya kamu terlena, padahal dari sisi yang lain; mudah pula kamu terluka, entah kamu percaya atau tidak??. “ketahuilah bahwa benci dan cinta itu sama”, sepertinya ini lucu, tapi aku memang pernah merasakannya, entah kamu percaya atau tidak??.-
Hari yang harusnya cerah. Namun lain halnya dengan hari di dalam kehidupanku; 09-04-2012, kota Surabaya menjadi saksi satu-satunya. Semua nilai ujianku hancur, aku merasa telah menghianati kepercayaan ibu, bapak, kakak, serta semua harapan keluargaku. Mungkin saat itu aku orang terbodoh yang hidup di kota Surabaya. Tidak pantas, tidak perlu disangkal, aku tampak tak layak disebut mahasiswa universitas negeri Surabaya. Aku seperti hanya orang gila, semua dosen pun mengganggapku orang gila. Kecuali satu; pak yoyok. Dengan menangis aku menulis tulisan ini, andai ini mungkin berguna buatnya: ingin rasanya kujadikan jawaban atas soal ulangan yang beliau berikan buatku. Thanks you pak yoyok, terimakasihku untuk kepercayaanmu membiarkan aku mengerti cara menghukum diri sendiri.-
Masih hari itu, pulang kuliah bukanlah suatu hal yang istimewa. Rasanya masih menyakitkan teringat ucapan salah satu dosenku tadi pagi buatku: “KAMU ITU MAHASISWA APA !!”. baginya mungkin tak ada cara lain menyadarkanku bahwa aku memang bukan mahasiswa sesungguhnya. Namun lebih dari itu aku masih bertanya-tanya; mengapa orang mudah merendahkan orang lain?? Tidak adakah kata yang lebih manis agar ringan terdengar ditelinga orang lain??. Hanya satu jawabku: burung kenari lebih mengerti soal itu.-
Seperti kisah burukku selanjutnya. suatu saat aku pernah menulis sesuatu tentang burung kenari. Kukirimkan ke berbagai media, tapi ngga’ ada satu pun yang laku. Tentangnya, Inspirasiku berawal ketika aku jalan-jalan di daerah kelurahan lontar. Ternyata, setiap hari minggu di daerah kelurahan lontar Surabaya, selalu diadakan lomba kicau burung. Jenis burung yang di adu pun beragam; mulai burung kenari, burung kacer, burung cucak rowo, dan masih banyak lagi jenis burung lainnya. Ini hanya promosi rahasia yang lebih rahasia. Entah kamu percaya atau tidak??.-
Dalam kisahku; sejak tahun 1929-an. burung kenari bernama toni (bukan nama sebenarnya) menginginkan satu buah sayap emas yang terletak dalam dasar telaga sembilan warna, biasa disebut telaga rowi. Apapun akan terjadi, sesuai ketetapan dewa, baik burung kenari atau burung lainnya, haruslah melewati rintangan 7 larangan. Pertama, rintangan berupa larangan siju; berisi larangan untuk terbang di pagi hari. Kedua, rintangan berupa larangan broto; berisi larangan makan biji tumbuhan padi. Ketiga, rintangan berupa larangan ngoni; berisi larangan hinggap di semua pohon. Keempat, rintangan berupa larangan jotos; berisi larangan marah kepada burung lain. Kelima, rintangan berupa larangan palie; berisi larangan untuk membuang kotoran di sungai. Keenam, rintangan berupa larangan tior; berisi anjuran mengikhlaskan terbang dengan mata terpejam. Ketujuh, rintangan berupa larangan usuk; berisi larangan untuk sombong. Semua rintangan itu memang tidak mudah dilewati, bagi toni, apalagi toni tidak sendiri dalam keinginannya memiliki sayap emas itu, ada burung kenari lain bernama putri (nama disamarkan) yang juga menginginkan sayap emas itu.-
Tahun 1930-an. toni telah siap dengan kemantapan hatinya. Ia memutuskan untuk menyelesaikan rintangan siju. Berusaha sekuat-kuatnya, toni berjanji untuk tidak terbang di pagi hari selama hidupnya. Ternyata, selama hidup itu pula toni bagaikan burung kenari lupa akan budaya dunia burung. Oleh masyarakat burung pun, ia dianggap “toni sang burung kenari sengasara pagi-pagi”. Resah dan gelisah seakan menjadi kenikmatan tersendiri buat toni, setiap hari sampai mati nanti.
Tahun 1931-an. giliran putri yang mencoba menahlukkan rintangan siju. Bersumpah tiada lagi harapan terbang di pagi hari, ternyata putri belum sanggup setelah selama 212 hari merasakan kaku pada tulang sayapnya. Putri menunda diri untuk melewati rintangan pertama itu.
Tahun 1932-an. putri semakin kuat berusaha mengkeraskan niatnya. Ketika tahun ini, dalam faktanya toni telah mampu melewati rintangan siju, ia telah beranjak untuk melewati rintangan kedua (broto). Berbeda dengan toni, putri menyadari itu; Mimpinya lebih lambat akan terpenuhi. Putri berusaha merakit lagi serpihan-serpihan kesempatan, namun sampai selama satu tahun terlewati, putri masih belum dapat menyelesaikan rintangan siju.
Tahun 1933-an. tidak ada kabar terbaru.
Tahun 1934-an. masih sama.
Tahun 1935-an. kabar beritanya masih kabur.
Tahun 1936-an. putri telah dapat melewati rintangan pertama, sedangkan toni telah menyelesaikan rintangan kedua.
Tahun 1937-an. Seperti sedia kala selanjutnya, toni telah jauh mencapai tahap rintangan ketiga, sekarang. Putri berhenti berkeinginan terhadap sayap emas itu. Entah ada apa dengan putri. Dengan bahasa burung, aku berhasil mewawancarainya. Berikut cuplikannya:
Putri : wuit.. wuit.. (terjemahannya: ada apa mas?)
Aku : cer.. cer… wuit.. (terjemahannya: kenapa kamu berhenti inginnya tentang sayap itu?)
Putri : ssret.. wuit.. sit.. (terjemahannya: maaf mas, itu rahasia)
Aku : crosit… sit.. (terjemahannya: ya sudahlah).
Aku tidak tahu mengapa putri menjadi seperti itu. Tapi itulah faktaku tentang putri; bahwa aku tidak tahu apa-apa akannya.
Tahun 1938-1944 an. Toni telah melewati tujuh rintangan yang menjadi harapannya. Ia sesegeranya menuju telaga rowi. Mengambilnya, mengambil mimpinya akan sayap emas itu. Saat sampai, seperti janji dewa, akhirnya air telaga rowi itu mengering hingga terlihat satu sayap emas berkilau. Toni pun mengambilnya dan memotong satu sayapnya, dan menggantinya dengan sayap emas itu.
Tahun 1945-an. Via phone Kabar terbaru tentang toni dari putri; “Kehidupan toni berubah dari awalnya mas. Tidak kenal musim, toni menjadi primadona masyarakat dunia burung” tangkasnya.
Begitulah kehidupan semestinya. Burung kenari bernama toni dan putri menjadi contohnya. Betapa kita seharusnya mengerti akan filsafat hati. Sebuah perjuangan sangatlah penting kegigihannya –dalam bahasa pesantren disebut istiqomah-. Tidakkah dunia ini sementara, lalu untuk apa jika dalam waktu sedikit ini kita menjadi mahluk yang sia-sia. Renungkanlah dengan hati, gita kecil burung kenari ini. Entah kamu percaya atau tidak.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar