-Distorsi Hikayat Seorang Profesor-

Rupanya ada uban disebongkah rambutnya
Padahal dia belum begitu tua
Wajahnya sangar .. .. ..
Sulit dipahami lagi
Seperti sebuah buku tebal bahasa jerman yang dia benar-benar hafal_

Matahari sudah mulai terbenam. Maksudku; sore telah berada ditepian untuk pergi. Disamping momen itu ternyata ada lelaki bernama supeno. Dia adalah seorang profesor muda disalah satu perguruan tinggi negeri di surabaya. Dengan berjalan kaki perlahan menyusuri ramainya lalu lintas dijalanan surabaya, sendirian, terlihat layu dan gundah. Mungkin diwaktu sebelumnya yang panjang, ada masalah psikis yang menderanya. Setahuku memang benar, hal itu kemungkinan terjadi –sisanya mungkin juga salah- soalnya bukan hal yang biasa profesor supeno pulang dari kampus di waktu sore seperti itu, apalagi pulang dengan berjalan kaki, maklum jam mengajarnya full-time sampai malam. Katanya seperti itu dari banyak orang. Lanjut cerita, sampai malam menyelimuti bumi lagi, sebenarnya bagiku bukan sesuatu yang menyenangkan menceritakan masa kelam dari profesor supeno.X
Pagi di keesokan harinya, suara-suara ayam berkokok melantun bukan merdu, namun lembut menembus keheningan manusia yang kebanyakan sedang tertidur pulas. Profesor supeno telah terbangun sebelumnya. Dia seharian belum juga tidur, matanya enggan untuk tertutup karena membaca sesuatu. Sebuah surat yang dia baca berulang-ulang hingga kertasnya hampir sobek njelebut. Surat itu dia terima dari seorang wanita cantik bernama ibu riya mashita, yang tak lain adalah istrinya. Isi suratnya sederhana, dua butir, butir pertama ; wanita cantik itu meminta cerai darinya, segera. Nampak belum juga percaya, profesor supeno mencoba menahan sisa logika yang bersemayam dalam otaknya. Bagi profesor supeno, selama ini selain soal hasrat sex, tiada satu pun kebutuhan yang tidak dapat dia penuhi untuk istrinya. Soal kekayaan, soal gaya hidup, soal status terhormat, dan sebagainya, rasanya bukan hal sulit bagi profesor untuk memenuhinya. Namun soal sex lain lagi, profesor supeno memiliki gangguan impotensi sejak kecil -memori ketika dia sedang khitan, dan dokter salah memotong bagian dari yang seharusnya dipotong, membuat hal ini terjadi-.X
Dalam surat itu juga –butir kedua-, ibu riya mashita mengajukan beberapa syarat andai profesor supeno tidak ingin perceraian itu terjadi. Salah satunya, mengijinkan ibu riya berhubungan sex dengan anak tirinya yang diadosinya dulu dari sebuah panti di surabaya -sekarang anak itu sudah besar umur ± 21 tahun-. Perasaan yang hancur berkeping-keping tentu memutar kedamaian hati profesor supeno. Bukan hanya pilihan yang sulit, namun juga pilihan yang justru diluar nalar profesor supeno. ‘’sayang, mengapa kamu menjadi seperti ini’’ nada lirih batin profesor supeno yang juga sedang menangis. baginya bertahun-tahun pernikahan itu berlangsung, mengapa harus ada peristiwa seperti ini di hidupnya. Dia belum siap, perasaannya belum sekuat logikanya, hatinya belum sekuat otaknya, nalarnya telah buntu, harta tahta bukan lagi sesuatu yang dapat dia banggakan, kalut kusut atau lebih dari kata remuk yang tak terdefinisikan lagi. Sampai tiba saatnya profesor supeno harus mengambil keputusannya, akhirnya profesor supeno memilih butir kedua sebagai keputusannya. Akibatnya, dihari-hari selanjutnya tidak jarang profesor menyaksikan di depan matanya sendiri perbuatan yang tidak senonoh itu antara istrinya dengan anak tirinya -hampir setiap malam ketika profesor supeno sepulangnya dari mengajar di kampus-. Bukan lagi perasaan yang menjadi garis merah pikiran profesor supeno, tetapi juga logika yang rumit yang belum tentu manusia biasa bisa mengatasi masalah seperti ini, tentunya mungkin hanya yang bergelar profesor yang bisa menyikapi hal yang seperti ini.X
10 tahun kemudian .. ...
Profesor supeno mengakhiri hidupnya dengan melakukan aksi bunuh diri dengan terjun langsung dari lantai 3 rumahnya. Di depan banyak tamu orang yang diundangnya dalam peringatan ulang tahun pernikahannya. Ketika itu, tidak jarang yang meyesalkan perbuatan bodoh yang dilakukan profesor supeno. Namun siapa yang tahu sebenarnya; manusia itu sendiri yang lebih tahu akan masalahnya. God bless you profesor supeno.X

Tidak ada komentar:

Posting Komentar