-Bidadari Dan Cerita Sopir Angkot-

Hipotesis Cerita          : Ada Indikasi Pekatnya Kisahku Ini Berarti Dan Bermakna
Setting Lokasi              : Universitas Negeri Surabaya, Terminal Joyoboyo
Setting Waktu             : Di Hari Tiada Embun Yang Meredakan Kehangatan.

Gemerlap cahaya itu membuat aku terlena dibuatnya.Bukan langit matahari atau rembulan, namun cahaya bidadari di bumi; Pujaan hati, pengilham inspirasiku selain ibu. Hari silih berganti tapi tampaknya waktu akan cintaku padanya tak pernah sirna. Keindahan mata, merdunya suara, ketulusan senyuman, lembutnya ucapan, itulah yang kuingin miliki dari kemulyaan kesederhanaannya.Meski dia bukan manusia yang paling sempurna, setidaknya bidadari itu telah bersinar mengubah duniaku di Surabaya.-
Sejatinya aku masih penakut menjadi temannya.Aku belum berani menjadi kekasihnya.Begitu menggebu sebuah impian cintaku, hanya sedikit penghalang makna tulus yang sebenarnya yang aku punya. Aku pernah belajar makna cinta dari guru gilaku di universitas negeri Surabaya; kata sang guru: cinta yang semakin mendalam namun tak tulus, itu seperti benda berharga tetapi di dalam sampah. itulah mengapa aku masih merasa belum menemukan keberhargaan tulusku akan cinta abadi untuk bidadari. Sepanjang waktu itu pula keinginanku kusimpan sampai pertemananku dengannya semakin erat dalam keakraban.Semua untuk aku memantaskan diri menjadi miliknya.-
Seperti semestinya aku berangkat ke kampus.Pintu kampus menyapa dengan satpam sebagai wakilnya. Meski aku tak pernah percaya menjadi siswa di sana, namun memang tak pernah tampak hitam kemungkinan itu selalu bergeming. Kenyataan telah membawaku berlabuh di tempat yang tak ku duga sebelumnya.Kuingat saat hari pertama aku kuliah, kuingat saat hari-hari biasaya aku mengacungkan tangan dan bertanya aneh, kuingat dosen-dosen marah ceria tertawa, kuingat saat saat aku menyesali membuat kesal professor.Bagiku Tampak bahwa takdir memang ada tuhan yang mengatur semuanya.-
Dikampusku didalamnya ada taman dengan gazebo-gazebo beratap asbes berbentuk payung. Disitu aku biasanya menelan waktu sambil membaca buku, mengisi waktu berdua bersama bidadari. Kebetulan juga jam itu dia tidak ada matakuliah, aku mengajaknya untuk bersama di gazebo. Entah karena memang aku menarik atau apa, dia menerima ajakanku. Kami pun hanya berdua disana, kebetulan memang sepi tak ada mahasiswa satu pun di gazebo yang lain. Terlihat mesra bagiku, tapi tak tahu bagi dia. Sepanjang waktu kami habiskan dengan canda, atau serius dengan buku yang dibaca berdua.Terlihat bagiku betapa menawannya dia, sesuatu yang entah mengapa membuat aku mengerti mungkin ini yang dinamakan sempurnanya seorang wanita.-
Kata-kataku tak pernah habis buatnya.Aku juga tak pernah mencoba merelakan waktu berdua dengannya.Semakin lama di dekatnya, semakin terasa juga begitu bermakna dunia tercipta seakan hanya untukku dan untuknya.Namun hanya sebatas manusia aku dan dia menahan kejenuhan.Dia pun menginginkan agar aku mengajaknya jalan-jalan.Akhirnya Inisiatifku yang ingin mengajaknya naik angkot keliling Surabaya, diterima dengan kedengaran yang aneh buatnya.“ ha.. kenapa enggak naik motor aja win??” begitu sahutnya. Aku tak bergumam sedikit pun kala itu, hanya sedikit senyuman menggoda yang kutawarkan membalas pertanyaannya.Mungkin ini pertama kali dia mencoba menikmati suasana Surabaya di tengah sesaknya penumpang angkot.Terbukti di dalam angkot dia terlihat sayu, kurang ceria seperti biasanya.-
Kami sampai di terimal joyoboyo.Lokasi terminal ini terletak di Surabaya selatan. Terminal joyoboyo merupakan terminal tipe B dengan luas lahan 11.134 M2, dimana melayani angkutan antar kota dalam propinsi (AKDP) dan angkutan kota. Jaringan trayek angkutan kota yang dilayani terminal joyoboyo ini yakni bus kota dan angkutan kota (lyn).Aku dan dia pun turun dari angkot.Saat itu dia terlihat kelelahan.Aku lupa bahwa kami memang belum makan dari pagi.Sepotong roti berisi coklat ku bagi berdua sebagai penahan lapar dan Sebotol air club 150 ml menu pelepas dahaganya.-
Tantanganku padanya belum selesai, dia yang akhirnya terbawa oleh suasana terminal joyoboyo menarik tanganku dan memperlihatkan seorang sopir angkot yang sedang tidur di dalam lyn. Dia berbisik ditelingaku memberi tantangan agar aku menggangu sang sopir sampai dia bangun. Aku terima pun menerima tantangannya, sedikit sulit sebenarnya tapi apa mau dikata bila cinta sudah bicara, J.
Berlagak seperti wartawan, dengan hape sebagai recorder, buku dan pulpen sebagai alat list pertanyaan, dia kusuruh untuk disampingku sebagai asisten.Sungguh ini tidak patut untuk ditiru, atau lebih tepatnya berbahaya.Demi canda, demi senyumannya, itulah harapku kala itu.Aku pun membangunkan pak sopir.Kuawali dengan ucapan maaf telah mengganggu tidurnya, lalu dengan segera ku perkenalkan identitas palsuku dan dia asisten idamanku.Aksiku nampaknya lancar dengan keseriusan pak sopir menjawab pertanyaanku. Kuketahui Nama sopir itu pak karman, dia urban dari blitar, hampir 20 tahun dia menjadi sopir lyn. Sempat juga ku tanyakan apa asyiknya jadi sopir lyn, dia menjawab dengan tertawa “ ya bisa tidur kayak tadi mas, kalo sopir bus kan g bisa”. Kalo susahnya apa pak?? Tanyaku lagi. “g ada susahnya mas, semua pekerjaan kan ada resikonya” lanjutnya.Sampai aku akhiri peranku sebagai wartawan dan pak sopir sebagai informan, kami pun bersalaman sebagai tanda perpisahan.Bagiku kala itu bersalaman juga tanda maaf yang sebesar besarnya atas keisenganku mengganggu tidur pak sopir.“Untung saja beliaunya enggak marah” begitu batinku.-
Sebelum cahaya menutup mata, sore yang melelahkan itu sungguh begitu tampak manja membuat kami berdua terbawa suasana. Dia salut akan actingku yang katanya mirip alfito deanofa –presenter tvone-, aku pun salut ternyata meski aku bukan apa-apa bagi dia, dia selalu menerimaku apa adanya.Akhirnya kami pun pulang naik angkot lagi.dia tampak kelelahan saat disampingku  merebahkan kepalanya dipundakku. Terasa romeo dan Juliet khas anganku.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar